Sabtu, 26 Maret 2011

tentang sebuah pintu

Ini cerita tentang sebuah pintu. Bersama seorang teman, kami berdiskusi panjang lebar tentang bagaimana dan kapan kami akan membuka pintu itu. Intensitas diskusi kami membuat saya makin penasaran, makin ingin tahu, makin ingin memegang gerendelnya, lalu mendorong si pintu hingga terbuka.

Namun, saya takut, teramat takut membukanya. Tak hanya takut, tetapi juga bingung. Butuh kekuatan ekstra untuk meraih gerendelnya lalu mendorong hingga terbuka. Apakah saya mempunyai kekuatan itu?Apakah rasa penasaran saya sudah cukup kuat untuk mendorong pintu itu agar terbuka?

Saya belum tahu hingga dua puluh delapan hari ke depan. Selama masa penantian, saya harus mengukur kekuatan,keberanian, dan konsekuensi dari pilihan saya membuka pintu. Kalau pun akhirnya saya putuskan membuka dan masuk ke dalam pintu itu, semoga Tuhan mau mengerti...

Kamis, 24 Februari 2011

menabung rindu

aku menabung rindu

kusimpan lima huruf itu satu demi satu dalam celenganku
senin selasa rabu
kuhitung hingga hari minggu
kuperiksa setiap waktu
sejak pagi hingga saat bulan menyapaku

aku hanya bisa menabung rindu

Sabtu, 29 Januari 2011

Ternyata..

Gara-gara harus cari akte kelahiran lintang, ngga sengaja kubaca-baca lagi tulisanku di masa lalu. Aduuh, ampun deh ternyata kacau banget sintaksis dan morfologinya. malu aku mengklaim diriku pernah jadi editor balairung. Tulisan-tulisan itu ternyata hanya kuedit dari perspektif nilai rasanya. enak dibaca atau nggak, itu aja. Pdahal sekilas saja kubaca, haduuh..ini tulisan kok juelek banget. Teknik menulis yang payah dan baru kusadari setelah menjadi guru bahasa Indonesia.

Ya, selalu ada terang sesudah gelap. MUngkin ini jalan yang Allah tunjukkan buatku dalam rangka mewujudkan cita-citaku sebagai penulis. Ya, meski di lapangan teknik penulisan tidak melulu bersandarkan pada morfologi dan sintaksis yang saklek, setidaknya pengetahuanku yang sudah jauh lebih baik tentang hal ini bisa membantuku menciptakan tulisan yang lebih berisi. Pe-erku sekarang hanya meluangkan waktu, memaksa diriku menulis tentang apa saja. Toh, ide-ide inspiratif itu sudah menari-nari di kepalaku. IDe yang datang dan pergi, yang muncul dan hilang begitu saja. Itulah kenapa aku eprlu netbook,itulah alasan utama kenapa aku membutuhkan si mungil. Supaya aku bisa menulis kapan pun. Sayangnya aku sering tak berdaya saat berhadapan dengan si malas.Hufh..hush..hush..ayo pergi jin malas..

Memikirkan tulisan membuatku jadi semangat lagi, energi negatif yang tadi muncul sedikit mulai terkikis. Alhamdulillah, ada "berharap lebih" yang layak untuk diharapkan. Setidaknya hidupku masih tetap indah, tetap meriah, meski kalian berdua kusimpan ke tempat sampah.

berharap lebih

lagi-lagi aku berharap lebih pada orang-orang yang salah. ini kesekian kalinya bangunan itu roboh lagi. kembali menjadi jengkel, menjadi marah, menjadi benci, menjadi tak berdaya lagi. Ini kali kesekian aku menyesali kebodohan, kekonyolan, dua hal yang sering membuat ulu hatiku sakit atau terbangun kaget lalu sesak nafas. Ini memang keputusan benar yang harus diambil. benar yang baik, kuharap begitu. Benar yang memaksa hatiku bekerja lebih keras untuk ikhlas, untuk menerima, memaklumi, dan memahami. Benar yang memaksa hatiku untuk lebih rajin lagi belajar membangun kesadaran, memaksa hatiku untuk berusaha lebih gigih menciptakan kestabilan emosi dan senantiasa mengingatkan hati agar taklagi berharap lebih.

Lalu apa yang dimaksud dengan berharap sekadarnya?berharap yang seadanya?berharap yang biasa-biasa saja? hm..mungkin berarti berharap yang sesuai realitas atau mungkin tak perlu lagi berharap. yah, meski berharap selalu berarti positif menurut temanku yang psikolog, tapi di titik ini, berharap pada dua orang itu berarti membuka pintu untuk negativitas. Oh tidak!aku tak mau lagi menjamunya. Ternyata keras hati menjadi solusi yang lebih baik dibandingkan melembutkan hati agar semua pihak tak ada yang ditinggalkan, tak ada yang disakiti.

Aku bukan wonder woman yang bisa mengabaikan kecewa, dan patah hati. Sebetulnya aku hanya ingin berhubungan baik, menjadi kawan baik, menjadi sahabat untuk siapa saja. Namun, ada kalanya niat semcam itu tak selamanya bisa diterima, tak selamanya mendapat input yang bagus seperti yang diperkirakan sebelumnya. Ya sudahlah, que sera sera..aku ikut aturan main kalian deh..seperlunya, secukupnya.

Bahkan, lebih baik jika melupakan..ya melepaskan ingatan, melepaskan harapan..berarti melupakan. meski kenangan itu berlipat jumlahnya..

Jumat, 17 Desember 2010

sungguh

sungguh, ini menyakitkan. kita terasa makin hambar. Kau yang diam dan jauh sementara aku memanggil-manggilmu seraya berlari menghampiri. Haruskah menakar kondisi kita dengan timbangan adil dan tidak adil?haruskah menilai semua sikap-sikapmu dengan menggunakan standar kriteria ciri-ciri seseorang mencintai Anda? Haruskah mengabaikan semua takaran, ukuran, dan pertimbangan lalu meneruskan langkah untuk memahamimu selalu..selalu..dan selalu..?

Sungguh, aku letih,lelah, dan nyaris lunglai menghadapimu, membatinmu, dan merindukanmu. Sungguh, aku ingin pergi sebetulnya, tapi mengapa selalu ada energi lebih yang menahanku untuk tetap tinggal dan melanjutkan pengejaranku. Ini sudah tak sehat lagi karena bahagia itu semu rasanya. Aku lebih sering membatin dalam luka ketimbang membatin dalam bahagia setiap kali mengingatmu. Deretan tanda tanya yang tak juga terjawab membuat segala sesuatu terasa makin jauh dan samar.

Allah..tolonglah..tunjukkan yang benar adalah benar dan yang batil adalah batil tentang dia dan hubungan kami. Allah, apakah benar-benar tak ada aku di hatinya meskipun hanya sedikit saja?sedikit yang menggerakkan jari-jarinya mengetik pesan singkat untuk mengabariku di mana dan sedang apa dia.Apakah permohonan itu berlebihan ya Allah??

Tolong..tolong aku, ya Allah.. cinta ini semakin terasa lebay,semakin terasa merugikan,menyedot energi positif dan menyebarkan negativitas ke seluruh sendi otot urat syarafku..Allah, kumohon tolong aku..tolong aku dari perasaan yang membelenggu ini..

Aneh Rasanya; Berhenti atau Terus??

Ini rasa apa?mengapa hambar dan tak nyaman?

Aku -seperti biasa- berusaha sekeras mungkin menghubungkan diriku denganmu.Tanpa lelah, tanpa menyerah, meski harus bergulat dengan waktu dan penolakan-penolakanmu yang khas itu. Malam ini, rasanya berbeda. Aku merasa kau tak lagi istimewa dengan pertanyaan-pertanyaan ingin tahumu. Pertanyaan yang sangat personal, yang dulu -dengan sangat konyol- kuanggap sebagai sesuatu yg istimewa, yang merekatkan kita, yang membuatmu takkan ke mana-mana. Namun, ada kabar yang datang, dia bercerita tentang pertanyaan-pertanyaanmu yang sering kautanyakan padaku. Huaah, apa ini? setelah semua yang terjadi, ternyata aku tak istimewa sama sekali untukmu. Jadi, waktu dan peristiwa yang sudah lewat itu tak ada artinya buatmu. Atau..hm...mungkin kau merasa bahwa itu hanya semacam tugas mulia yang harus kaulakukan seperti Bunda Theresa?

Kembali untuk kesekian kali aku merasa dipinggirkan. Aku menggambarkan diriku seperti sedang berlari sekuat tenaga mengejarmu; berlari sekencang-kencangnya agar tetap bisa bersisian denganmu. Namun, kau tak peduli pada tenagaku yang terkuras, pada lariku yang kencang, bahkan pada lubang-lubang hatiku karena sikap-sikapmu.

Pernah satu waktu kutanyakan padamu, "adakah kau mengingatku?" kau jawab,"ada." "tapi mengapa tak pernah kaukirimkan kabar?" dengan ringan kaujawab,"karena aku tak ingin membuatmu ge-er." Yah..mungkin karena bagimu kita sekadar bermain-main di taman mimpi Layla Majnun yang tak pernah ada itu.

Ini waktu bagiku untuk merenungkan kembali, memikirkan ulang apa yang sebenarnya ada di hatimu. Adakah aku sedikit di hatimu?ini mungkin berlebihan kalau harus mengabariku bahwa telepon selulermu baru, tapi kukira ini bisa jadi parameter apakah kau mengingatku untuk hal-hal kecil yang sederhana. Atau aku yang terlalu berlebihan berharap padamu?padahal kau sama sekali tak bisa diharapkan?You are very dissapointed!!

Merefleksi doaku tentang laki-laki yang kumohonkan Tuhan kirimkan untukku. Laki-laki yang berjalan bersisian, berdampingan, berpegangan tangan, tanpa saling mencengkeram atau melukai. Lelaki yang bukan sebagai tempatku selalu bergantung, bukan pula sosok yang tanpanya aku tak bisa hidup. Dan kau...tampaknya -mungkin- bukan sosok yang kuharapkan..

Ya Allah, apakah ini?untuk kesekian kali aku ragu. Apakah sikap-sikapnya adalah ujian bagiku untuk terus berjuang meraih hatinya ataukah ini adalah pertanda bahwa dia bukan untukku?laki-laki yang sibuk dengan diri dan keluarganya. Laki-laki yang asyik dengan bulu-bulu lembut kelinci dalam Dunia Sophie..Aku?adakah aku sedikit di hatimu,kak???

Kamis, 16 Desember 2010

sebuah doa

Seorang perempuan berdoa pada Tuhannya, " Tuhanku, aku tak ingin bersuamikan lelaki yang membuatku tergantung padanya. Yang membuatku merasa tanpa dirinya, aku tak bisa jalani hidupku. Tuhanku, aku hanya ingin lelaki yang bisa kuajak melangkah bersisian, berdampingan, berpegangan tangan, tanpa mencengkeram atau melukai satu sama lain. Tuhanku, maafkan aku karena sudah mengaturMu. Tapi, kumohon kabulkan doaku...